Dan kalau sudah tersedia internet sekencang ini, hm tiada lain tiada bukan: download sepuasnya! lumayan buat mengunduh film-film yang kelewatan karena tidak pernah sempat ditonton di Indonesia. Lumayan juga buat hiburan, meringankan beban kepala yang mulai pusing karena tugas bikin laporan, esai, presentasi dsb mulai menumpuk. Tapi kadang susah juga mengontrolnya hingga sewaktu-waktu satu malam habis buat menonton. Tugas-tugas itupun terbengkalai. Terbengkalai berarti semakin menumpuk sementara tenggat waktu kian mendekat. Berarti akan menjadi lebih pusing lagi dan butuh lebih banyak hiburan lagi. Artinya harus lebih banyak menonton film lagi. wow ini seperti lingkaran setan, hehe.
Btw, ada berita mengatakan bahwa pemerintah Australia punya program National Broadband Network (NBN) yang akan menyediakan koneksi internet super cepat bagi setiap rumah di pelosok negeri. Super cepat!!? Wow ini saja sudah lumayan kencang, mau ditambah dengan yang super lagi?? edan!
Kebetulan juga topik menyangkut NBN ini menjadi salah satu topik pilihan di tugas individu salah satu mata kuliah: bagaimana NBN bisa mempengaruhi dan meningkatkan efektifitas supply chain? How? Tak tahulah. Saya tak akan memilih topik ini karena masih ada beberapa topik yang kelihatannya lebih mudah.
Oya NBN juga masuk dalam radar kampanye menjelang pemilihan umum di Australia dalam waktu dekat. Di televisi saya lihat ada iklan salah satu partai yang menuding bahwa kandidat dari partai lain akan membatalkan program NBN. Dan kalau bicara soal kampanye, di sini iklannya sadis! sangat to the point! langsung menyebut nama kandidat yang menjadi obyek sindiran baik Julia Gillard maupun Tony Abbot sang pemimpin oposisi saat ini.
Kalau di Indonesia tak mungkinlah, atau belum berani seperti itu. Di Indonesia sindiran terhadap partai tertentu dilakukan dengan simbolisasi seperti menggunakan warna merah, biru dan sebagainya yang melambangkan partai sasaran. Pemirsa diajak menafsirkan sendiri siapa yang dimaksud. Mungkin suatu saat nanti ketika demokrasi di Indonesia semakin matang, menyindir langsung dengan menyebut nama seperti di Australia akan menjadi hal yang lumrah.
Kalau di Indonesia tak mungkinlah, atau belum berani seperti itu. Di Indonesia sindiran terhadap partai tertentu dilakukan dengan simbolisasi seperti menggunakan warna merah, biru dan sebagainya yang melambangkan partai sasaran. Pemirsa diajak menafsirkan sendiri siapa yang dimaksud. Mungkin suatu saat nanti ketika demokrasi di Indonesia semakin matang, menyindir langsung dengan menyebut nama seperti di Australia akan menjadi hal yang lumrah.