Apakah menulis tesis butuh imajinasi? Saya rasa tidak. Yang dibutuhkan hanyalah fakta dan analisa. Berbeda dengan menulis cerita pendek (baca: fiksi) dimana imajinasilah yang berperan penting, meski ide cerita bisa saja dari kejadian nyata namun terdapat pilihan yang tak terbatas untuk merekayasa kejadian dan jalan ceritanya sesuai kemauan si penulis. Nah kalau tesis?
Ah, tengah malam begini ketika sudah capek membaca referensi dan jurnal-jurnal yang tak ada habisnya saya jadi berpikir andai saja saya bisa merekayasa semua sumber bacaan ini, merangkai dan menyimpulkannya seenak hati, pasti tak perlu waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan tesis minor ini. Ya sebenarnya bisa saja sih saya berbuat begitu, tentu saja dengan resiko dikeluarkan dari universitas dan mungkin dikenai denda ratusan ribu dollar akibat plagiarisme.
Ratusan ribu dollar? Wah saya bisa hidup selamanya di Indonesia dengan duit sebanyak itu.
Ah, tengah malam begini ketika sudah capek membaca referensi dan jurnal-jurnal yang tak ada habisnya saya jadi berpikir andai saja saya bisa merekayasa semua sumber bacaan ini, merangkai dan menyimpulkannya seenak hati, pasti tak perlu waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan tesis minor ini. Ya sebenarnya bisa saja sih saya berbuat begitu, tentu saja dengan resiko dikeluarkan dari universitas dan mungkin dikenai denda ratusan ribu dollar akibat plagiarisme.
Ratusan ribu dollar? Wah saya bisa hidup selamanya di Indonesia dengan duit sebanyak itu.
No comments:
Post a Comment